makalahonline.com
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
dalam Pencapaian Standar Nasional Pendidikan
yang Terkait dengan Pembelajaran Matematika
M.
Salman A.N.
Kelompok
Keahlian Matematika Kombinatorika
Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi
Bandung
Jl. Ganesa 10
Bandung 40132
email: msalman@math.itb.ac.id
Standar nasional pendidikan
Pendidikan
nasional Indonesia
harus sejalan dengan amanat pasal 31 UUD Negara RI Tahun 1945 tentang
Pendidikan dan Kebudayaan. Secara operasional pelaksanaan pendidikan harus
merupakan realisasi UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan
peningkatan mutu pendidikan nasional di tengah perubahan global. Melalui
pendidikan nasional setiap warga negara Indonesia diharapkan menjadi
manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas,
produktif, berdaya saing tinggi, dan bermartabat di tengah pergaulan
internasional. Dalam hubungan ini segala upaya perlu dilakukan agar pelaksanaan
pendidikan nasional dapat berhasil sehingga tujuan pendidikan nasional dapat
tercapai.
Dewasa ini terjadi perubahan
paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada guru ke yang berpusat pada
peserta didik. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menjamin
terlaksananya pembelajaran bermakna. Para peserta didik didorong
membangun sendiri pemahamannya, dan guru berperan sebagai fasilitator. Guru
bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan bagi peserta didik. Sumber pengetahuan
tersebut sesungguhnya demikian banyak dan semuanya berada dalam lingkungan
sekitar, sehingga peserta didik dituntut lebih aktif dan kreatif dalam belajar.
Perubahan
paradigma pembelajaran ini menuntut perubahan proses pembelajaran dan hal lain
termasuk yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana
seyogyanya dirancang agar pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dapat
terlaksana secara optimal. Pada kenyataannya sebagian besar sarana dan
prasarana pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia belum
mendukung terlaksananya pembelajaran yang diinginkan.
Kondisi saat ini
menunjukkan banyak sekolah di Indonesia belum memiliki sarana dan prasarana
yang memadai baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Permasalahan lain adalah
masih adanya kesenjangan ketersediaan sarana dan prasarana antar sekolah dan
antar daerah. Atas dasar kenyataan itu, ditetapkan standar minimum sarana dan
prasarana sekolah-sekolah di Indonesia dengan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional RI No. 24 Tahun 2007. Diharapkan dengan adanya standar ini keberadaan
sarana dan prasarana mampu mendukung
pembelajaran dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
Standar sarana
dan prasarana pendidikan merupakan salah satu dari delapan standar pendidikan
yang disiapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) berdasarkan amanat
yang dituangkan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Standar lainnya adalah standar isi, standar proses, standar
kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar
pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan (lihat http://www.bsnp-indonesia.org/standards.php).
Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika
Pada abad ke-20
matematika telah membawakan suatu kegiatan intelektual yang tingkat
kecanggihannya sangat tinggi, meskipun matematika sendiri tidak mudah untuk
didefinisikan. Subjek yang sekarang dikenal sebagai matematika pada awalnya merupakan hasil perkembangan terdahulu
dari konsep bilangan,
pengukuran, dan bentuk.
Secara sederhana, matematika didefinisikan sebagai studi tentang
besaran, dan keterkaitannya dengan bilangan atau simbol. Dalam matematika
dikenal berbagai subjek penting, aritmetika, geometri, aljabar, kalkulus,
probabiliti, statistik, dan banyak lagi topik khusus dalam penelitian.
Matematika
merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern,
mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir
manusia. Perkembangan pesat di bidang TIK dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori
peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa
depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran
matematika diberikan kepada semua peserta didik untuk membekali mereka dengan
kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta
mampu bekerjasama. Kompetisi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat
memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk
bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kopetitif.
Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika disusun sebagai
landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain
itu, dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika
dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan
menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam
pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal,
masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara
penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu
dikembangkan ketrampilan memahami masalah, membuat model matematika,
menyelesaikan masalah dan menafsirkan solusinya.
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika
hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi. Dengan
mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk
menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran,
sekolah diharapkan menggunakan TIK seperti komputer, alat peraga, atau media
lainnya.
TIK dan pembelajaran matematika
Memasuki abad ke-21, bidang TIK berkembang dengan pesat
yang dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa mikroelektronika. Perkembangan
ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan
aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada TIK. Perkembangan TIK telah
memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses
pembelajaran. Terjadi pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: dari ‘ruang
kelas’ ke ‘di mana saja’, dari ‘waktu siklus’ ke ‘waktu nyata’, dari ‘kertas’
ke ‘on line’, dan dari ‘fasilitas
fisik’ ke ‘fasilitas jaringan kerja’.
Interaksi antara
guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka, tetapi dapat
juga dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, sms, dan
e-mail. Guru dapat
memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula,
siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber
melalui internet.
Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan
internet sebagai media utamanya mampu memberikan kontribusi yang demikian besar
bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi
terjadinya perubahan mendasar terhadap peran guru: dari informasi ke
transformasi.
Sebagai seorang professional, guru memiliki lima tugas
pokok, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi
hasil pembelajaran, menindaklanjuti hasil pembelajaran, serta melakukan
bimbingan dan konseling. TIK tentunya dapat berperan pada kelima tugas pokok
tersebut.
Dalam pembelajaran matematika yang paling penting
ditekankan adalah ketrampilan dalam proses berpikir. Siswa dilatih untuk dapat
mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, dan konsisten.
Untuk membantu dalam proses berpikir tersebut, gambar dan atau animasi dapat
digunakan. TIK dapat berperan di sini. Dalam perencanaan pembelajaran guru
dapat memperkaya materi yang akan disampaikan dengan mengambil beberapa contoh
kontekstual yang ada di dunia maya dengan bantuan internet.
Pada saat pelaksanaan pembelajaran, komputer dapat
digunakan sebagai media. Komputer bisa menyajikan media dalam bentuk grafis dan
audio-video. Tentunya ini akan menambah daya tarik bagi siswa dalam belajar.
Sifat kemonotonan penyajian pada pengajaran ‘konvensional’ dapat dikurangi. Pembelajaran
matematika yang selama ini dianggap sangat ‘menakutkan’ tidak perlu terjadi
karena prosesnya diberikan secara menarik dan menyenangkan oleh guru mata
pelajaran tersebut. Dengan bantuan beberapa perangkat lunak beberapa konsep
matematika seperti volume benda putar, konsep limit, dan geometri dengan mudah
dapat diterangkan dan bukti-bukti matematika dapat disajikan dengan lebih menarik.
Dengan TIK, soal evaluasi dapat dengan mudah dibuat
beragam. Soal-soal dengan mudah dapat dikombinasikan untuk mendapatkan beberapa
paket soal. Ini tentunya akan membantu mengurangi kecurangan dalam
pengerjaannya. Walaupun soal dibuat beraneka ragam, dengan bantuan TIK proses
penilaian masih dapat dibuat cepat. Selanjutnya, dengan e-mail atau jalinan
komunikasi antara guru dengan siswa atau dengan orang tua siswa dapat ditingkatkan. Jika terdapat masalah pada
peserta pembelajaran, maka akan cepat didiskusikan cara penyelesaiannya.
Tentunya ini akan meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, guru atau siswa
dengan bantuan internet dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi tambahan
yang akan membantu memperkaya wawasan.
Kesimpulan
TIK dapat berperan dalam pembelajaran matematika. Guru
dapat memanfaatkan TIK dalam membantu pelaksanaan tugas pokoknya. Materi
pembelajaran dapat dibuat lebih menarik sehingga siswa akan lebih termotivasi
dalam belajar. Selain itu, siswa dan guru mudah mendapatkan pengkayaan materi
ajar sehingga akan meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi tersebut.
Karena adanya peningkatan dan pemerataan mutu dalam proses belajar mengajar
ini, standar nasional pendidikan dapat direalisasikan.